Home         Contact Us         Sitemap

 

Gawat Makanan beracun itu ada pada makanan ta'jil kita
Senin, 6 Juli, 2015

 Makanan takjil beracun terus beredar di tengah di masyarakat.

 
Beberapa hari yang lalu Plt Gubernur Banten, Rano Karno melakukan sidak di pasar modern  BSD dan mendapat bahwa ada makanan takjil yaitu kolang kaling dan tahu  yang mengandung formalin  ditemukan  di  pasar  tersebut.  Padahal  pasar modern BSD tersebut telah menjadi percontohan untuk menjadi  Pasar Amandari Bahan Berbahaya di  Provinsi  Banten,  dan telah di  intervensi  sejak tahun 2013. Di Depok, kemarin Sabtu, 27 Juni 2015, Polresta Depok menyita lebih 8000 tahu yang mengandung formalin dan menangkap pemilik pabriknya. Tersangka pemilik “pabrik tahu” tersebut dijerat UU Pasal 136 UU RI nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman hukuman pidana paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp.10.000.000 (sepuluh milyar rupiah). Berita seputar makanan yang dicampur dengan zat beracun selalu ada dan tampaknya bukan berkurang malah makin bertambah.
 
Sabtu  sore  kemarin,  tanggal  27  Juni  2015, saya  berkesempatan  untuk mengunjungi salah satu pusat takjil terkenal di Jakarta yaitu pasar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Secara kebetulan sore itu saya melihat secara sekilas kalau Pak  Ahok  dengan  jajarannya ternyata juga sedang  melakukan  inspeksi mendadak (sidak) ke pusat takjil terkenal di Jakarta  tersebut khususnya untuk melihat kualitas makanan  yang  ada.  Setali  dua  uang,  di  pusat  penjual  takjil terkenal di Jakarta tersebut ternyata mengandung makanan Takjil beracun.  Saat itu Mobil keliling BPOM juga memperagakan hasil razia mengenai makanan yang sudah tercemar bahan berbahaya tersebut. Surprised saya mendapat keterangan kalau ternyata makanan takjil yang tersedia lebih dari 10 % mengandung bahan berbahaya antara lain mengandung formalin, rhodamin B, boraks dan  methanilyellow.
 
Apa yang saya lihat ini sejalan dengan apa yang saya dapat di poliklinik sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam,  bahwa sebagian besar pasien2 yang datang ke  RS yang batal puasa dalam 10 hari pertama bulan  Ramadhan ini,berhubungan  dengan  gangguan  pencernaan.  Hasil  wawancara  dengan  pasien biasanya mereka mengalami gangguan pencernaan malam hari atau saat sahur dan ini berhubungan dengan makanan atau minuman yang dikonsumsi saat buka puasa.  Diare merupakan penyebab terbesar  kenapa mereka batal puasa. Diare umumnya  timbul  pada  pagi  hari.  Penyebab  utama  diare  adalah  konsumsi makanan  yang tidak tepat. Makanan terlalu pedas dan asam menjadi pencetus kenapa  mereka  mengalami  diare.  Belum  lagi  makanan  yang  dicurigai  sudah terkontaminasi   bahan  berbahaya  dan  tetap  dikonsumsi, dicurigai  menjadi penyebab  kenapa  pasien  yang  batal  tersebut  mengalami  diare.  Informasi  ini menjadi penting agar masyarakat muslim yang menjalami puasa harus pandai-pandai memilih makanan dan minuman untuk berbuka dan sahur. Selain diare nyeri  ulu hati  juga hal  yang dikeluhkan disampaikan oleh pasien yang sedang berpuasa. Nyeri ulu hati memang tidak sampai membatalkan puasa tapi untuk sebagian pasien nyeri ulu hati sangat mengganggu. 
 
Kembali atas hasil pemeriksaan oleh mobil laboratorium keliling yang dilakukan oleh BPOM DKI Jaya di pusat makanan dan minuman takjil pasar Benhil Jakarta Pusat,  ternyata  makanan  dan  minuman  yang  mengandung  zat  berbahaya tersebut ada pada mie, kerupuk, kolang kaling, cendol dan makanan lain untuk buka puasa. Mie dan kerupuk berwarna kuning dan merah ternyata mengandung boraks  dan  rhodamin  B.  Cendol  yang  berwarna  hijau  ternyata  mengandung perwarna tekstil. Kolang kaling pun ternyata juga mengandung zat beracun.  Saya sempat  bertanya  kepada   salah  satu  petugas  BPOM  yang  ada  di  lapangan, ternyata temuan zat beracun pada makanan di Jakarta sebanyak 17% dan ini berarti  hampir dua kali lipat dari temuan yang ada di seluruh Indonesia yang mencapai 10 %.
 
Kalau  kita   melihat  dampak  kesehatan  zat  beracun  ini  dapat  menyebabkan berbagai  gangguan  kesehatan.  Konsumsi  Rhodamin  B  dalam  jangka  panjang dapat  terakumulasi  di  dalam  tubuh  dan  dapat  menyebabkan  kerusakan  pada ginjal dan hati dan akhirnya dapat menyebabkan kanker hati dan gagal ginjal. Formalin  bagi  tubuh  manusia  diketahui  sebagai  zat  beracun,  karsinogen(menyebabkan kanker), mutagen (menyebabkan perubahan sel, jaringan tubuh), korosif dan iritatif. Uap dari formalin sendiri sangat berbahaya jika terhirup oleh pernafasan dan juga sangat berbahaya dan iritatif jika tertelan oleh manusia. Dampak  buruk  bagi  kesehatan  pada seorang  yang  terpapar  dengan  formalin dapat terjadi akibat  paparan akut atau paparan yang berlangsung kronik.  Apa yang  terjadi  pada  masyarakat  kita  yang  menkonsumsi  makanan  yang mengandung formalin tentunya paparan ini berlangsung kronik. Dampak buruk bagi kesehatan jika terpapar formalin secara kronik dan berulang-ulang antara lain  sakit  kepala,  radang  hidung  kronis  (rhinitis),  mual-mual,  gangguan pernafasan baik berupa batuk kronis atau sesak nafas kronis.  Gangguan pada persyarafan berupa susah tidur, sensitive, mudah lupa, sulit berkonsentrasi. Padawanita akan menyebabkan gangguan menstruasi dan infertilitas. Pada manusia penggunaan  formalin  jangka  panjang  dapat  menyebabkan  kanker  mulut  dan tenggorokan. 
 
Saat ini penyakit gagal ginjal dengan tindakan cuci darahnya  merupakan salah satu  penyakit  yang  menyebabkan  dana  Badan  Penyelenggata  Jaminan  Sosial(BPJS)  terkuras.  Begitu  pula  kanker  juga  menjadi  penyakit  utama  yang mendominasi untuk kasus2 yang menghabiskan dana BPJS.Ini merupakan tugas pemerintah daerah untuk melindungi rakyatnya dari bahan-bahan berbahaya dan harus ada efek jera bagi para pelaku yang telah meracuni masyarakat.  Pemerintah  daerah  tidak  boleh  tinggal  diam  akan  hal  ini, pemerintah daerah tidak boleh melakukan pembiaran atas usaha pihak2 yang sedang meracuni masyarakat. Kalau tidak ada tindakan tegas temuan ini tidak ada artinya. Saya juga melihat bahwa para penjual yang makananya mengandung bahan beracun tetap berjualan dan masyarakat pun tetap membeli makanan dan minuman  yang  berbahaya  tersebut  karena  ketidaktahuan  bahwa  dibalik makanan dan minuman tersebut mengandung racun.
 
Akhirnya  masyarakatlah  yang  harus  melakukan  tindakan  pencegahan  agar terhindar  dari  makanan  dana  minuman  yang  beracun  dengan  tidak  membelimakanan dan minuman yang mencurigai tersebut.  
 
Sekali  lagi  razia,  inspeksi mendadak ataupun namanya yang  sudah dilakukan tidak ada gunanya jika  tindakan tegas tidak dilakukan. Kasihan masyarakat yang menjual  makanan  yang  aman  yang  bebas  dari  zat  beracun,  karena  sebagian masyarakat  yang  mendapat  informasi  tentang  sidak  ini  memilih  untuk  tidak mengonsumsi makanan yang dicurigai yang mengandung makanan yang beracun tersebut.
 
Salam sehat,
Dr.Ari Fahrial Syam
Klinisi dan pengamat kesehatan
Share on Facebook


Jengkol memang enak tapi tetap harus waspada
Jum, 20 Okt, 2017
Saya kebetulan dari Minang, ayah saya senang sekali dengan jengkol atau jariang dalam bahasa Minangnya,  baik dalam bentuk kerupuk maupun dalam bentuk gulai atau di goreng dan  ditumbuk ...

Tips Kesehatan: Jangan Lengah saat Lebaran Tiba
Sel, 27 Jun, 2017
Segala sesuatu yang tidak diperbolehkan untuk  dikonsumsi pada pagi hari karena kita berpuasa menjadi boleh kita konsumsi setelah kita memasuki bulan Syawal....

Antisipasi Dehidrasi menghadapi kemacetan Mudik Lebaran
Sab, 17 Jun, 2017
Menjelang mudik kali ini, beberapa pasien saya dengan penyakit kronis misal DM, Hipertensi atau bahkan penyakit kanker atau bahkan orang tua usia lanjut melapor dan izin dulu kepada saya untuk ...

Kita Harus Lebih Bijak dalam Memilih Terapi Alternatif
Sel, 12 Jan, 2016
Pada hari Kamis pagi minggu lalu saya mendengarkan wawancara Radio Elshinta dengan Dr. Yose Rizal SpOT sebagai narasumber....

Antisipasi dehidrasi dan heat stroke di Tanah Suci
Sel, 8 Sep, 2015
Tahun ini jumlah jamaah haji Indonesia berkisar   168.000 jamaah sama seperti tahun 2014 sesuai kuota yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi....

     
Copyright 2009