Home         Contact Us         Sitemap

 

Kita Harus Lebih Bijak dalam Memilih Terapi Alternatif
Selasa, 12 Januari, 2016

Pada hari Kamis pagi minggu lalu saya mendengarkan wawancara Radio Elshinta dengan Dr. Yose Rizal SpOT sebagai narasumber. Menurut beliau, orthopedi tidak mengenal chiropractic dalam tata laksana pasien-pasien orthopedi. Yang dikerjakan tampaknya suatu stretching menurut beliau. Dalam praktik sehari-hari, biasanya dokter orthopedi akan konsul ke dokter rehabilitasi medis atau fisiotherapist secara langsung dengan arahan dari dokter orthopedi. Tidak semua kasus sakit leher atau sakit pinggang dilakukan stretching karena bisa berakibat fatal. Secara umum, sebagai seorang praktisi kesehatan, saya mengimbau masyarakat memang harus hati-hati mengenai bentuk-bentuk terapi alternatif yang ada di tengah masyarakat, apalagi jika terapi tersebut membawa dampak buruk, seperti kasus Allya Siska Nadya tersebut. Saya juga pernah mendapat kasus pasien mengalami kelumpuhan setelah menjalani terapi yang mirip chiropraktik. Pasien sebelumnya merasa pegal-pegal di leher. Pegal-pegal di leher sebenarnya bisa macam-macam penyebabnya, bisa karena otot, gangguan tulang leher, atau bahkan karena dugaaan syaraf kejepit atau HNP. Mungkin untuk yang pegal-pegal karena masalah otot bisa membaik dengan stretching seperti pada chiropraktik. Namun, pada pasien karena syaraf kejepit atau HNP, tindakan yang dilakukan oleh chiropraktik bisa fatal, malah menyebabkan kelumpuhan, apalagi dilakukan oleh seseorang yang tidak mengenai struktur anatomi leher dengan baik. Kadang terapi alternatif tidak melakukan diagnosis dengan tepat sebelum melakukan tindakan. Misal, pada kasus tadi pegal-pegal di leher bisa macam-macam penyebabnya dan tindakan medisnya juga beda-beda, Jadi, tidak bisa dipukul rata dan dilakukan tindakan chiropraktik.

Saya melihat bahwa Indonesia memang sepertinya merupakan surga buat terapi alternatif. Masyarakat cenderung mengambil jalan pintas dalam melakukan pengobatan untuk diri dan keluarganya. Masyarakat kita mudah sekali melakukan generalisasi dalam melihat keberhasilan suatu pengobatan alternatif. Padahal, dalam melakukan suatu terapi atau pengobatan, diagnosis suatu penyakit merupakan hal yang penting dalam memutuskan suatu pengobatan. Diagnosis suatu penyakit hanya bisa dibuat oleh seorang dokter karena dokter belajar bertahun-tahun, bahkan untuk seorang konsultan mereka akan belajar belasan tahun. Saat ini pun dalam pendidikan kedokteran untuk melalui tahapan pendidikan tertentu, seorang dokter harus mengikuti ujian nasional atau national board examination. Dan untuk tetap bisa praktik, seorang dokter harus melakukan resertifikasi setiap 5 tahun untuk mendapatkan Surat Izin Praktek. Syarat-syarat untuk resertifikasi ini juga tidak mudah sebenarnya. Karena dokter harus mengikuti pendidikan keprofesian berkelanjutan selama kurun waktu itu 5 tahun sebelum resertifikasi selanjutnya. Seorang dokter juga harus menyatakan sehat fisik dan mental.  Kadang-kadang memang dalam praktik sehari-hari saya sering mendapat hal-hal lucu di mana pasien datang kepada saya karena katanya didiagnonis mempunyai sakit ginjal oleh terapist alternatif. Padahal, si terapist tersebut hanya memegang tangan si pasien tersebut. Lucunya, pasien tersebut sangat yakin dan percaya atas diagnosis yang dibuat oleh terapist alternatif tersebut.

Banyak hal lain yang memang pemerintah harus melakukan pengawasan terhadap pelayanan kesehatan terapi alternatif yang ada dan berkembang di tengah masyarakat. Contoh lain pasien dengan BAB berdarah dan yakin kondisi tersebut karena ambeien dan berobat ke terapist ambeien. Setelah mendapat terapi, ternyata perdarahan masih berlangsung saat datang kepada saya. Hasil pemeriksaan saya ternyata pasien menderita kanker usus besar, bukan ambeiein. Nah, hal-hal seperti ini yang saya mau sampaikan bahwa jika diagnosis tidak tepat, tentu terapi tidak bisa diberikan dengan tepat. Buat kita semua, kasus seputar Chiropraktik yang merupakan fenomena gunung es karena banyak sekali masyarakat yang dirugikan dengan praktik-praktik terapi alternatif karena memang didasari diagnosis yang tidak tepat. Apalagi ternyata diketahui bahwa pelayanan kesehatan tidak berizin dan dilakukan oleh orang-orang yang tidak jelas kompetensinya. Tetapi memang umumnya masyarakat pasrah saja dan tidak melaporkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian seperti pada kasus Allya ini.

Masyarakat harus selalu saling mengingatkan agar jangan menjadi dokter untuk dirinya sendiri dan kritis atas diagnosis yang dibuat oleh seseorang yang bukan dokter. Melalui informasi ini masyarakat kita bisa dicerdaskan dan lebih kritis dalam memutuskan terapi alternatif untuk diri sendiri dan keluarganya.  

Salam sehat,
Dr.Ari F Syam

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/doktorari/kita-harus-lebih-bijak-dalam-memilih-terapi-alternatif_569334398623bdc706478e89
 

Share on Facebook


Jengkol memang enak tapi tetap harus waspada
Jum, 20 Okt, 2017
Saya kebetulan dari Minang, ayah saya senang sekali dengan jengkol atau jariang dalam bahasa Minangnya,  baik dalam bentuk kerupuk maupun dalam bentuk gulai atau di goreng dan  ditumbuk ...

Tips Kesehatan: Jangan Lengah saat Lebaran Tiba
Sel, 27 Jun, 2017
Segala sesuatu yang tidak diperbolehkan untuk  dikonsumsi pada pagi hari karena kita berpuasa menjadi boleh kita konsumsi setelah kita memasuki bulan Syawal....

Antisipasi Dehidrasi menghadapi kemacetan Mudik Lebaran
Sab, 17 Jun, 2017
Menjelang mudik kali ini, beberapa pasien saya dengan penyakit kronis misal DM, Hipertensi atau bahkan penyakit kanker atau bahkan orang tua usia lanjut melapor dan izin dulu kepada saya untuk ...

Antisipasi dehidrasi dan heat stroke di Tanah Suci
Sel, 8 Sep, 2015
Tahun ini jumlah jamaah haji Indonesia berkisar   168.000 jamaah sama seperti tahun 2014 sesuai kuota yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi....

Gawat Makanan beracun itu ada pada makanan ta'jil kita
Sen, 6 Jul, 2015
 Makanan takjil beracun terus beredar di tengah di masyarakat....

     
Copyright 2009