Home         Contact Us         Sitemap

 

Jengkol memang enak tapi tetap harus waspada
Jumat, 20 Oktober, 2017

Saya kebetulan dari Minang, ayah saya senang sekali dengan jengkol atau jariang dalam bahasa Minangnya,  baik dalam bentuk kerupuk maupun dalam bentuk gulai atau di goreng dan  ditumbuk (ditokok) dan dicampur dengan minyak kelapa. Tetapi saya juga ingat bahwa ayah saya mempunyai masalah dengan ginjalnya saat muda saat senang-senangnya makan jengkol. Beliau punya masalah dengan batu ginjal dan sempat menjalani pengobatan karena batu ginjal tersebut. Ini terjadi 30 atau 40 tahun yang lalu saat saya belum sekolah di fakultas kedokteran. Dengan perjalanan waktu sepertinya ayah saya mengurangi kebiasaan makan jengkol  tersebut walau sampai saat ini sekali-kali masih makan jengkol walau tidak banyak. Karena sepertinya kondisi ayah saya tidak memungkinkan lagi untuk mengosumsi jengkol berlebihan dan rasanya beliau mengikuti saran dokter penyakit dalamnya untuk tidak makan jengkol lagi saat itu. 

Saat ini selama saya menjadi dokter lebih dari 25 tahun  jarang sekali ayah saya jarang bermasalah dengan ginjalnya lagi  walau secara umum dengan umur hampir 80 tahun fungsi ginjalnya sudah mulai menurun. Saya minta beliau mencek fungsi ginjalnya dalam 3 bulan sekali termasuk urinnya untuk memantau kondisi ginjalnya. Tentu juga dengan anjuran menjaga makannya untuk mengurangi jero-jeroan atau sea food yang bisa memperburuk fungsi ginjal serta juga membatasi untuk mengosumsi jengkol lagi.

Jengkol sendiri sebenarnya termasuk kelompok sayur-sayuran. Jengkol yang dikonsumsi tersebut merupakan biji dari tanaman jengkol tersebut. Jengkol disajikan dalam berbagai bentuk makanan. Jengkol bisa dijadikan kerupuk, bisa dijadikan gulai, bisa dibuat semur atau rendang sebagian jengkol di panggang dan ada juga yang mengosumsi mentah untuk jengkol muda. Pada sebagian masyarakat jengkol menjadi makanan favorit, bahkan sebagian bilang rasa semur jengkol seperti  rasanya ati ayam.
Jengkol ramai kembali menjadi pembicaraan ketika jengkol disangkut pautkan sebagai penyebab kematian 4 pemuda yang mengosumsi jengkol dengan minuman keras. Memang perlu dilakukan otopsi apa yang sebenarnya terjadi pada 4 pemuda yang tewas tersebut, apa penyebab kematiannya. Kalau tidak memang kita tetap hanya bisa menduga-duga penyebab kematian keempat pemuda tersebut.
 
Jengkol sendiri sebenarnya mengandung berbagai sumber gizi penting untuk tubuh kita yaitu karbohidrat, protein nabati, vitamin A, vitamin D, kalsium, besi dan posfor termasuk serat yang ada pada jengkol. Tetapi selain unsur nutrisi jengkol juga mengandung   asam jengkolat sejenis asam amino yang mengandung sulfur. Sulfur akan menimbulkan bau yang tidak sedap sedang asam jengkolat dapat membentuk kristal di dalam ginjal kita. Asam jengkolat yang membentuk kristal  ini bisa menumpuk di ginjal dan menyebabkan sumbatan pada saluann kencing sehingga menimbulkan berbagai keluhan.
 
Seseorang yang mengalami keracunan jengkol secara medis disebut mengalami Djenkolism. Keluhan yang muncul bisa berupa  nyeri perut, kembung begah, mual dan muntah. Pasien akan mengalami kolik ginjal dan kadang kala disertai dengan buang air kecil berdarah (hematuria). Seseorang yang pada keadaan akut mengalami keracunan jengkol bisa mengalami tidak bisa buang air kecil sama sekali dan terjadi gagal ginjal akut. Jika kondisi ini tidak segera diatasi maka yang akan terjadi kemudian adalah berbagai komplikasi akibat gagal ginjal tersebut dan tentu bisa saja berakhir pada kematian.
 
Pertanyaan muncul berapa banyak jumlah jengkol yang bisa menyebabkan komplikasi? Sejauh ini memang belum ada  penelitian yang melaporkan berapa banyak jengkol yang aman untuk dikonsumsi. Tetapi ada satu laporan kasus  dari Kalimantan yang dipublikasi pada jurnal internasional  melaporkan  seorang laki-laki berumur 32 tahun mengalami keracunan setelah memakan 10 buah jengkol. yang dipublikasi bisa dalam bentuk buah atau dalam bentuk gram yang bisa menyebabkan komplikasi berupa keracunan jengkol. Yang penting tentu jangan berlebih-lebihan. Selain itu hal penting yang harus diketahui apa yang harus dilakukan jika  seseorang mengalami keracunan, harus segera di bawa ke RS. Perlu penanganan yang cepat untuk melarutkan kristal  jengkolat yang mengendap di ginjal selain itu juga perlu dilakukan hidrasi yaitu pemberian cairan yang cukup melalui infus untuk melarutkan dan meluruhkan ginjal  dan pelancar buang air kecil biasanya juga diberikan  untuk mengeluarkan kristal dari asam jengkolat tersebut.
 
Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat,
Salam sehat,
Ari F Syam
Share on Facebook


Tips Kesehatan: Jangan Lengah saat Lebaran Tiba
Sel, 27 Jun, 2017
Segala sesuatu yang tidak diperbolehkan untuk  dikonsumsi pada pagi hari karena kita berpuasa menjadi boleh kita konsumsi setelah kita memasuki bulan Syawal....

Antisipasi Dehidrasi menghadapi kemacetan Mudik Lebaran
Sab, 17 Jun, 2017
Menjelang mudik kali ini, beberapa pasien saya dengan penyakit kronis misal DM, Hipertensi atau bahkan penyakit kanker atau bahkan orang tua usia lanjut melapor dan izin dulu kepada saya untuk ...

Kita Harus Lebih Bijak dalam Memilih Terapi Alternatif
Sel, 12 Jan, 2016
Pada hari Kamis pagi minggu lalu saya mendengarkan wawancara Radio Elshinta dengan Dr. Yose Rizal SpOT sebagai narasumber....

Antisipasi dehidrasi dan heat stroke di Tanah Suci
Sel, 8 Sep, 2015
Tahun ini jumlah jamaah haji Indonesia berkisar   168.000 jamaah sama seperti tahun 2014 sesuai kuota yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi....

Gawat Makanan beracun itu ada pada makanan ta'jil kita
Sen, 6 Jul, 2015
 Makanan takjil beracun terus beredar di tengah di masyarakat....

     
Copyright 2009