Home         Contact Us         Sitemap

 

Sejarah Departemen Ilmu Penyakit Dalam

Pada tahun 1950 sampai tahun 1955 Bagian Ilmu Penyakit Dalam dipimpin oleh Prof. Aulia (lulusan Stovia 1913). Pada masa itu anggota staf Bagian ini masih sedikit, diantaranya adalah Prof. R.D. Asikin Widjajakusumah (guru besar), dr. Oei Eng Tie (Lektor), dr. Lie Kioeng Foei (Dokter Depkes), dr. Bert Djauhar (kemudian pindah ke Bagian Bedah), dr. Bahder Djohan, dr. A. Ramali (mengepalai poliklinik infeksi) dan dokter-dokter yang bertugas di klinik yaitu dr. Kusumasudjana (Depkes), dr. Sagaf (Depkes), dr. R. Karmawan (Depkes). Poliklinik Penyakit Dalam waktu itu terletak di kamar 15, 16, dan 17 (yang saat ini digunakan untuk kegiatan mahasiswa dan pasca sarjana). Barulah antara tahun 1951 – 1953 terdapat beberapa tambahan tenaga staf yaitu: dr. Rasmin Rasjid (Prof), dr. ANS Kamarga, dan dr. Utojo Sukaton (Prof). Untuk perawatan penderita tersedia  beberapa ruangan. Barak A yang berkapasitas 48 tempat tidur dikepalai oleh dr. Bert Djauhar kemudian diganti oleh dr. Utojo Sukaton, sedangkan ruang H3 dikepalai oleh dr. Lie Kioeng Foei.

Tahun 1950 merupakan peralihan setelah penyerahan kedaulatan dari  Belanda ke pemerintah Republik Indonesia. Setelah penyerahan kedaulatan ini terbuka kesempatan lebih luas untuk mengembangkan Ilmu Penyakit Dalam dengan kekuatan sendiri. Ketika Prof. Aulia menjadi kepala bagian, ia berusaha memperlihatkan bahwa para dokter Indonesia meski dengan peralatan yang sederhana dapat mengembangkan diri tanpa bergantung kepada dokter Belanda. Masalah kesehatan yang dihadapi pada masa itu, sudah tentu berbeda dengan sekarang. Jenis obat yang tersedia masih sedikit. Laboratorium untuk menunjang diagnosis dan alat kedokteran lain masih sederhana dan  jumlahnya pun terbatas diantaranya adalah: fluoroskopi (CB Paru). Elektrokardiografi dan alat pengukur Basal Metabolism Rate (BMR).  Meskipun dengan jumlah tenaga yang terbatas dan peralatan sederhana tapi karena tekad yang kuat untuk membangun bangsa maka prestasi kerja yang dihasilkan cukup tinggi. Para anggota staf bagian Ilmu Penyakit Dalam mengerahkan tenaga dan waktu untuk membangun bagian, baik dari segi pendidikan maupun pelayanan kesehatan. Bahkan bidang penelitian berjalan dengan cukup baik. Beberapa hasil penelitian di bagian Ilmu Penyakit Dalam berhasil dipublikasikan di majalah internasional seperti JAMA (Journal of American Medical Association).

Perkembangan Divisi
Semasa Prof. Aulia menjadi kepala bagian ada beberapa cabang bagian ilmu penyakit dalam seperti pulmonologi, kardiologi, infeksi, dan psikosomatik yang telah berkembang sesuai dengan tuntutan masalah kesehatan waktu itu. Sesuai dengan perkembangan ilmu dan kebutuhan pelayanan masyarakat maka perkembangan ilmu penyakit dalam semakin meluas sehingga terbentuklah divisi-divisi seperti dikenal sekarang ini. Perkembangan masing-masing divisi dalam lingkungan ilmu penyakit dalam merupakan motor perkembangan departemen.

Ketika Divisi Kardiologi berdiri, perawatan jantung masih digabung dengan penderita lainnya. Alat kedokteran yang tersedia berupa fluoroskopi dan EKG. Secara bertahap, divisi ini kemudian berkembang.  Melalui kerjasama dengan Bagian Ilmu Bedah dan Radiologi, telah berhasil dilakukan prosedur kateterisasi jantung. Untuk meningkatkan pelayanan gawat darurat penderita jantung, dr. Lie Kioeng Foei merintis pendirian ICCU pada tahun 1971 dan merupakan ICCU pertama di Indonesia. Kemudian peralatan semakin dilengkapi dengan adanya treadmill, fonokardiografi, dan ekokardiografi.

Pada tahun 1979 didirikan Divisi Pulmonologi yang dikepalai oleh dr. Ahmad Dahlan. Bersamaan dengan itu, RSCM berhasil melengkapi peralatan kedokteran seperti alat pemeriksaan fungsi paru, bronkoskopi, dll.  Pada waktu itu, penyakit kolera dan gastroenteritis (GE) lainnya merupakan salah satu penyebab kematian masyarakat. Menghadapi masalah ini dikembangkan suatu cara untuk menilai kehilangan cairan tubuh berdasarkan gejala dan tanda klinis yang diberi nama sistem skor (1970). Disamping penatalaksanaan GE juga dilakukan berbagai penelitian untuk memperbaiki penatalaksanaan penyakit infeksi lain seperti demam tifoid, malaria, amoebiasis, dan penyakit cacing. Sejak tahun 1985 demam berdarah mulai banyak mengenai orang dewasa dan Divisi Tropik Infeksi kemudian menyusun pedoman penatalaksanaan DHF pada orang dewasa bekerjasama dengan Divisi Hematologi.

Ketika didirikan pada tahun 1963, Divisi Gastroenterologi hanya mempunyai beberapa prosedur sederhana seperti businasi untuk achalasia, SB tube untuk menghentikan perdarahan saluran cerna bagian atas dan endoskop kaku (rigid) yang digunakan untuk anuskopi dan proktosigmoidoskopi. 
Penemuan petanda hepatitis dan alat ultrasonografi membuka cakrawala baru di bidang hepatologi. Dr. R.T.L. Pang memelopori biopsi hati sejak tahun 1953. Cara ini bermanfaat untuk mempertajam diagnosis penyakit hati. Pada tahun 1975 alat USG mulai digunakan, namun pada beberapa jenis penyakit hati biopsi dan peritoneoskopi masih diperlukan. Hepatitis B, sirosis, dan kanker hati merupakan masalah yang banyak diteliti di Divisi Hepatologi. Penatalaksanaan hematemesis melena pun dikembangkan bersama dengan divisi Gastroenterologi.

Sejak tahun 1966, didirikan Divisi Ginjal Hipertensi yang dipimpin oleh dr. RP. Sidabutar. Salah satu masalah yang dihadapi adalah masalah gagal ginjal. Untuk mengatasi masalah ini pada tahun 1969 dimulai kegiatan dialisis peritoneal. Pada tahun 1970 berkat bantuan mesin dialisis dari luar negeri telah dapat pula dilakukan hemodialisis. Program hemodialisis kronik dimulai sejak 1971. Sebagai upaya untuk mengatasi masalah gagal ginjal, dilaksanakan program transplantasi ginjal pada tahun 1977.
Di ruang perawatan penyakit dalam, kasus DM sering dijumpai. Poliklinik Metabolik Endokrin juga termasuk poliklinik yang banyak dikunjungi penderita. Kegiatan Divisi Metabolik Endokrin diprakarsai oleh dr. Utojo Sukaton. Sejak tahun 1971 dilakukan penyuluhan pada kelompok DM dan keluarganya secara teratur bekerjasama dengan gizi klinik RSCM. Berbagai penelitian dilakukan untuk mengobati komplikasi DM seperti gangren diabetes secara non bedah. Begitu pula protokol ketoasidosis yang menggunakan infus insulin dikembangkan agar dapat menjadi pedoman dalam penatalaksanaan ketoasidosis. Berkat kemajuan teknologi kedokteran seperti USG, sken tiroid , biopsi jarum halus, diagnosis penyakit tiroid dapat dipertajam, sedangkan dalam bidang pengobatan dilakukan aspirasi dan pengobatan sklerosing kista tiroid.

Pada waktu awal didirikan, pemeriksaan yang dapat dilakukan di Divisi Hematologi hanyalah pemeriksaan darah tepi dan biopsi sumsum tulang. Kemudian pemeriksaan sitologi untuk berbagai keganasan penyakit darah mulai dikembangkan. Begitu pula penelitian di bidang limfoma non Hodgkin. Kemajuan di bidang imunologi menghasilkan penggunaan antibodi monoklonal sejak tahun 1983 dan pemeriksaan serologi HIV sejak tahun 1985.

Divisi Alergi Imunologi yang memulai kegiatan pada tahun 1971 telah mampu melakukan tes kulit intrakutan untuk berbagai alergen serta pengobatan desensitasi. Pada tahun 1978, dapat dilakukan tes provokasi untuk menilai hiper-reaktivitas bronkial. Selanjutnya dikembangkan pula pemeriksaan untuk menilai status imun invivo dan invitro serta identifikasi alergen.
Berdirinya Divisi Rematologi diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup penderita penyakit rematik. Sarana diagnosis seperti pemeriksaan cairan sendi, faktor reuma, dan double strand DNA untuk SLE mulai dikembangkan. Upaya rehabilitasi diprakarsai oleh dr. Remy Nasution yang saat itu menjabat sebagai kepala divisi sekaligus kepala Unit Rehabilitasi Medik RSCM.
Kini departemen penyakit dalam terdiri atas dua belas divisi yaitu Divisi Alergi Imunologi, Divisi Gastroenterologi, Divisi Geriatri, Divisi Ginjal Hipertensi, Divisi Hematologi Onkologi Medik, Divisi Hepatobilier, Divisi Kardiologi, Divisi Metabolik dan Endokrinologi, Divisi Pulmonologi, Divisi Psikosomatik, Divisi Reumatologi, Divisi Tropik dan Infeksi. Masing-masing divisi memiliki dan mengembangkan pelayanan sub spesialistik dan unggulan.

Divisi Psikosomatik Departemen Ilmu Penyakit Dalam sudah berdiri sejak tahun 1955, ketika Profesor Aulia menjadi Kepala Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Saat itu Divisi Psikosomatik melayani pasien yang menderita berbagai keluhan tanpa ada kelainan organik atau disebut kelainan fungsional dan kemudian dikenal sebagai gangguan Psikosomatik (Dispepsia fungsional, Irritable Bowel Syndrome, fibromyalgia, nyeri dada non-kardiak, kecemasan, depresi, dll).
Selain melakukan pelayanan, Dvisi psikosomatik juga mengembangkan pendidikan dan melakukan penelitian sesuai dengan misi Departemen Ilmu Penyakit Dalam. Beberapa studi dan penelitan dilakukan mencakup bidang Psiko-neuro-immuno-endokrinologi.
Setelah kepemimpinan Prof Aulia berakhir, perkembangan divisi Psikosomatik berturut-turut diteruskan oleh dr. Sudarto Prayitno (1979-1985), dr. Dharsono Sukatman (1985-1989), dr. Sujana Budihalim (1990-1995), dr. E. Mudjaddid (1996-2008), dr Hamzah Shatri (2008-2011) dan dr. Rudi Putranto (2011-sekarang).

Saat ini pelayanan bidang psikosomatik meliputi layanan poliklinik untuk konsultasi gangguan psikosomatik, pemeriksaan fungsi otonom dengan HRV analyzer serta pelayanan unggulan berupa pelayanan paliatif yang terintegrasi.
Divisi Geriatri sebagai divisi termuda di lingkungan Departemen Ilmu Penyakit Dalam didirikan dengan tujuan untuk merepons adanya transisi demografi, transisi epidemiologi serta globalisasi pelayanan di kesehatan di bidang geriatri. Rintisan menuju pembentukan Divisi geriatri sesungguhnya telah dimulai sejak tahun 1985 ketika dibentuk Kelompok Kerja Geriatri di Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM/FKUI, yang kemudian pada tahun 1996 dibentuk Tim Terpadu Geriatri RSCM. Divisi Geriatri didirikan dengan diprakarsai oleh Alm. Prof. dr. Supartondo, SpPD-KEMD, KGer. Beliau adalah salah satu pelopor ilmu geriatri di Indonesia bersama dengan Prof. Budi Darmojo, SpPD, KGer dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/RS Dr. Kariadi Semarang. Lahirnya Divisi Geriatri di RSCM menjadikan RSCM ditetapkan sebagai RS Perintis Geriatri di Indonesia, yang kemudian mendorong lahirnya pelayanan geriatri di beberapa RS pendidikan di Indonesia. Berbagai penelitianpun telah dilakukan oleh Divisi Geriatri dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan, kemandirian dan kualitas hidup warga usia lanjut di Indonesia. Layanan geriatri yang saat ini dilakukan di Poliklinik Geriatri Terpadu oleh Tim Terpadu Geriatri akan berkembang menjadi satu layanan Pusat Geriatri Nasional yang akan menjadi pusat rujukan pelayanan, pusat pendidikan, dan pusat riset geriatri di Indonesia. 

Perkembangan saat ini setiap divisi seperti apa
Perkembangan di bidang pendidikan

Disamping itu, Departemen Ilmu Penyakit Dalam sebagai bagian dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia juga berfungsi sebagai lahan pendidikan bagi program pendidikan dokter baik mahasiswa kedokteran maupun program spesialis. Departemen Ilmu Penyakit Dalam mengembangkan sistem pelayanan spesialistik baik di ruang rawat inap maupun rawat jalan dengan menempatkan supervisor (spesialis atau spesialis konsultan). Pelayanan bersifat spesialistik sedangkan asisten ahli bersifat sebagai penunjang. Kehadiran dokter asisten ahli tersebut dapat menunjang program pelayanan dan penelitian yang mengutamakan health service research akan dapat dapat meningkatkan mutu pelayanan, sehingga kerjasama RSCM-FKUI akan bermanfaat bagi kedua belah pihak. Di masa lalu dokter spesialis Ilmu Penyakit Dalam yang dididik di departemen Ilmu Penyakit Dalam banyak menjadi tokoh di berbagai Fakultas Kedokteran di Indonesia. Diantaranya adalah Prof. Kadri (USU), Prof. Hanif (UNAND), dr. Tondobala (UNSRI), Prof. MZ Hazman (UNPAD), Prof. Budi Darmojo (UNDIP), Prof. Soekono (UNAIR) dan Prof.Dr. Handono Kalim (UNBRA).

Sejak awal berdirinya, Departemen Ilmu Penyakit Dalam bersama unit RSCM dan FKUI telah berkembang dalam upaya memecahkan masalah kesehatan di masyarakat. Bila dibandingkan keadaan pada awal berdiri dan keadaan sekarang, maka telah banyak kemajuan yang dicapai oleh Departemen Ilmu Penyakit Dalam. Hingga saat ini, Departemen Ilmu Penyakit Dalam masih terus berusaha berkembang mewujudkan visi dan misinya serta berusaha menjadi yang terbaik dalam hal pelayanan, pendidikan, dan penelitian.

Saat ini departemen ilmu penyakit dalam merupakan salah satu departemen dengan jumlah sumber daya manusia yang besar di RSCM. Jumlah staf medis yang merupakan dokter Spesialis dan Spesialis Konsultan sebanyak 112 (seratus dua belas) orang dan staf non medis sebanyak 68 (enam puluh delapan) orang pada bulan Agustus 2015.

     
Copyright 2009