Home         Contact Us         Sitemap

 

EBUS

Pelayanan Endobroncial Bronchoscopy Ultra Sonography (EBUS) 

Suatu prosedur invasif yang menggunakan peralatan ultrasonografi di dalam saluran napas dan paru untuk mengeksplorasi struktur dinding saluran napas, mediastinum, dan paru.

Prosedur tindakan

Persiapan
1 Menerangkan prosedur tindakan yang akan dilakukan :
    a. Kepada pasien dan keluarga, indikasi dan komplikasi
    b. Yang mungkin timbul, serta kemungkinan yang akan
    c. Terjadi bila tidak dilakukan prosedur tersebut
2 Setelah mengerti dan setuju, pasien dan keluarga menandatangani surat ijin tindakan
    Pasien :
     - Pemeriksaan DPL,BT,CT,ureum,elektrolit,AGD
     - Foto thoraks PA dan lateral
     - Spirometri
     - EKG
     - Pasien dengan asma diberikan nebulisasi dengan beta 2 agnosis 30 menit sebelum tindakan
     - Pasien dengan gangguan perdarahan/pembekuan diberikan thrombosit atau FFP segera sebelum tindakan
     - Puasa, minimal 4 jam sebelum tindakan
     - Dipasang IVFD
     - Dilakukan pemeriksaan hemodinamik (tekanan darah, nadi, frekuensi pernafasan, suhu)

Ruangan :
Dilakukan di ruang tindakan subbag. Pulmonologi, kecuali darurat. Menyediakan alat dan bahan yang diperlukan.

Alat :
    - 1 set peralatan bronkoskopi
    - Sumber 02 dengan aparatusnya
    - Mouth piece
    - Kassa steril
    - Kain penutup mata pasien
    - Pulse owymeter
    - Mucus corrector / wadah penampung cairan bilasan
    - EBUS Processor
    - EBUS Scope
    - Larutan povidon iodine diencerkan untuk membersihkan bronkoskop
    - Needle and Vaclock
    - Convex Probe EBUS

Bahan :
    - Sulfas atropine (SA) 0,25mg, 1-2 ampul
    - Diazepam 5 mg, 1 ampul
    - Lidocaine 2 %, 2 ampul @20 ml
    - Syringe 5 cc, 3 buah
    - Syringe 20 cc, 3 buah
    - Cairan NaCl 0,9%
    - Xylocaine spray 10%
    - Midazolam @ 5mg/5ml
    - Phentanyl  @ 0,05 mg/ml
    - Obat resusitasi : adrenalin ampul, dexamethason ampul, SA ampul, bicnat ampul, bronkodilator ampul)

Prosedur Tindakan

  1. Diperiksa tanda vital, status paru dan jantung
  2. Premedikasi dengan sulfas atropin 0,25 – 0,5 mg IM, 1 jam sebelum bronkoskopi
  3. Sesaat sebelum tindakan : diazepam 5 mg IM
  4. Anestesi lokal     
    - Kumur tenggorok dengan lidocaine 2 % 5 ml selama 5 menit dalam posisi duduk
  5. - Xylocaine spray 10% 5-7 semprot daerah laring –faring dan pita suara (menggunakan kaca laring)     
    - Bila via hidung : semprotkan 30 mg lidocaine 4% atau 10% ke ostium nassal     
    - Instilasi lidocaine 2% 2 ml ke trakea via pita suara
  6. Pasien terlentang dengan tubuh bagian atas / punggung disangga, membentuk sudut 450
  7. Ditempatkan bantal di belakang kepala, supaya otot leher menjadi lemas
  8. Bronkoskopi diinspeksi dan kejernihan gambar diperiksa
  9. Sensor oxymeterditempelkan pada jari telunjuk pasien
  10. O2 3-4 L/m melalui kanul nasal
  11. Kedua mata pasien ditutup dengan kain penutup untuk mencegah terkena larutan lidocaine / cairan pembilas
  12. Diletakkan mouth piece  di antara gigi atas dan bawah untuk melindungi bronkoskop
  13. Bronkoskop mulai dimasukkan melalui celah mputh piece
  14. Faring diinspeksi
  15. Instrument dimasukkan ke dorsal/epiglotis, mobilitas pita suara dilihat pada saat pasien menyebutkan “ii”
  16. Pita suara diinstilasi dengan lidocaine 1-2 ml melalui saluran di bronkoskop. Sebelum diinstilasi, pasien diberitahu bahwa hal itu dapat merangsang batuk. Instilasi lidocaine dengan jumlah yang sama dapat diulangi bila pasien terbatuk selama dilakukan tindakan. Lidocaine yang berlebihan diaspirasi dari sekitar laring
  17. Instrument dimasukkan melalui bagian terlebar dari glottis pada saat inspirasi tanpa menyentuh pita suara. Sebelumnya pasien diberitahu bahwa hal ini dapat menimbulkan sensasi tercekik yang segera hilang
  18. Trakea, karina, dan percabangan bronkus dinilai dan dianestesi dengan lidocaine 2 % 2 ml, maksimal 6 akli. Lobus superior paru kanan dan kiri dianestesi dengan injeksi langsung lidocaine (dosis maksimal lidocaine 400 mg)
  19. Inspeksi menyeluruh dilakukan pada semua percabangan bronkus sampai bronkus subsegmental
  20. Bila pandangan terhalang oleh sekret pada lensa distal, disemprot dengan 5 ml NaCl 0,9% yang diaspirasi kembali saat pasien batuk. Alternatif adalah memfleksikan ujung bronkoskop dan dengan hati-hati diusapkan pada mukosa trakea atau bronkus.
  21. Sebelum melakukan EBUS diberikan sedasi ringan ke pasien dengan midazolam dan phentanyl 
  22. Memasukkan Scope EBUS ke dalam saluran nafas dan mencari lokasi massa. Setelah lokasi massa ditemukan balon EBUS dikembangkan sehingga massa tampak jelas. 
  23. Dilakukan aspirasi dengan menggunakan jarum dan dihisap dengan vacum. Jika dihisap dan tidak ditemukan darah, maka dilakukan pengambilan sampel.
  24. Sampel yang telah diambil jika berupa jaringan dimasukkan ke dalam tabung yang berisi formalin dan sisanya di object glass dengan perbandingan satu kering satu basah ( untuk sediaan basah dengan alkohol 90%). Kemudian sediaan dikirim ke bagian patologi anatomi. 


Lama tindakan +/- 3,5 jam

Kontraindikasi
(relatif) :

  1. Hipoksemia ireversibel (PO2 , < 60mmHg
  2. Aritmia 
  3. Penyakit jantung iskemik
  4. Asma
  5. Obstruksi vena cava superior
  6. Diathesis perdarahan, termasuk thrombositopenia dan gagal ginjal kronik pasien tidak kooperatif

Komplikasi 

  1. Yang berhubungan dengan premedikasi : depresi pernafasan, hipotensi transien, syncope, hipereksitabilitas
  2. Yang berhubungan dengan analgesia topikal (jarang dengan lidocaine) : henti nafas, konvulsi, kolaps kardiovaskular, laryngospasme, metHemoglobinemia
  3. Yang berhubungan dengan bronkoskopi : laryngospasme respiratoru compromise/depresi nasas, bronkospasme, demam pasca bronkoskopi, epistaksis (bila vila nasal), henti jantung, aritmia, syncope, pneumonia, infeksi silang

Unit Terkait

  1. Divisi pulmonologi
  2. Ruang Prosedur Pulmonologi
  3. Instalasi Rawat Jalan Terpadu
  4. Instalasi Rawat Inap Terpadu-A
 

 

     
Copyright 2009