Home         Contact Us         Sitemap

 

Dokter Penyakit Dalam Indonesia tetap meramaikan Pekanbaru walau dihantui asap
Selasa, 2 Juli, 2013

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT berkat ridho-Nya lah sekitar 700 dokter dari seluruh Indonesia  berkumpul di Pekan Baru mulai dari tanggal 27-29 Juni 2013 untuk mengikuti acara Pekan Ilmiah Nasional  Perhimpunan Spesialis Penyakit Dalam Indonesia PIN PAPDI) XI  tahun 2013 ini.

Kegiatan PIN ini merupakan kegiatan rutin tahunan PB PAPDI dan menjadi ajang silaturahim dokter-dokter penyakit dalam Indonesia. PIN menjadi ajang untuk para dokter meningkatkan kemampuan klinis dalam penanganan kasus2 penyakit dalam. Berbagai teknik pemanfaatan tehnologi dan penanganan mutakhir kasus-kasus penyakit dalam  di ajarkan pada PIN ini khususnya dalam bentuk kegiatan workshop. Selain workshop para peserta juga disuguhi materi dalam bentuk kuliah umum serta simposium. Bersamaan dengan kegitan PIN ini juga diadakan pameran perusahaan farmasi dan alat kedokteran. Sehingga diharapkan dokter juga mendapat informasi mengetahui seputar obat-obat baru yang telah beredar di pasaran.

Para peserta ini   berasal dari seluruh Indonesia. Informasi mengenai adanya asap yang menyelimuti Pekan Baru beberapa hari ini  tidak menyulutkan niat para dokter untuk tetap hadir ke Pekan Baru ini. Kalau dokter saja takut dengan asap bagaimana masyarakat umum?. Dokter-dokter penyakit dalam dari seluruh Indonesia, hari ini  telah membuktikan kepada masyarakat Indonesia bahwa asap tidak menyurutkan niat para dokter  untuk tetap beraktifitas melakukan kegiatan di kota Pekan Baru yang selalu diberitakan  paling menderita akan bencana asap nasional ini. Para dokter  menjadi saksi bahwa aktifitas berjalan seperti biasa dan tentu berharap kondisi ini makin membaik dari hari ke hari.

Pada kesempatan ini kami juga ingin menyampaikan kepentingan dokter untuk tetap selalu mengupdate pengetahuannya. Ketika seseorang telah memutuskan untuk berprofesi sebagai  dokter maka mereka dituntut untuk tetap belajar seumur hidup. Dokter Indonesia juga selalu diminta untuk melakukan registrasi ulang setiap 5 tahun untuk tetap bisa berpraktek melakukan pelayanan kedokteran ditengah-tengah masayarakat. Poin penting dalam pertimbangan Konsil Kedokteran Indonesia memberikan registrasi ulang buat dokter Indonesia adalah partisipasi mereka untuk selalu mengupdate pengetahuan mereka seputar perkembangan tehnologi kedokteran.

SJSN dan AFTA

Selain itu berbagai hal penting akan terjadi dalam praktek kedokteran Indonesia yaitu penerapan Sistim Jaminan Sosial Nasional (SJSN) di Indonesia mulai tahun 2014. SJSN sendiri merupakan amanat UUD 1945 yaitu negara wajib mengembangkan sistim jaminan sosial bagi seluruh rakyatnya. Pelaksanaan SJSN ini dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang merupakan penyatuan dari beberapa BUMN yang ditunjuk, yaitu PT. Jamsostek, PT. Askes, PT. Taspen, dan PT. Asabri. Dalam penyelenggaraannya, BPJS terdiri atas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS kesehatan akan mengembangkan universal coverage bagi seluruh rakyat Indonesia. Yang menjadi   dasar  dalam program jaminan kesehatan nasional dalam era  SJSN adalah  sistim rujukan dalam pelayananan kesehatan di Indonesia.

Dasar dari sistim rujukan ini adalah bukti-bukti klinis atau evidence based dalam melaksanakan praktek kedokteran. Oleh karena itu dokter harus selalu mengupdate pengetahuannya di bidang kedokteran. Hal lain adalah ditahun 2015 akan mulai diterapkan penerapan perdagangan bebas dalam dunia kedokteran ditingkat ASEAN,  ASEAN FREE TRADE AREA (AFTA). Pada masa AFTA nanti RS asing dan dokter asing akan leluasa untuk memberikan pelayanan terhadap masyarakat Indonesia. Indonesia dengan jumlah penduduk 240 juta orang dengan pertumbuhan perekonomain yang baik akan mejadi pasar yang menggiurkan bagi investor asing di bidang kesehatan. Saat ini kita bisa melihat bahwa pemerintah Malaysia telah berpikir kedepan dengan mengirim dan memberikan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa Malaysia belajar di Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu. Dengan belajar disini mendapat gelar dokter di Indonesia membuat merekapun mudah jika pada akhirnya akan kembali ke Indonesia untuk berpraktek di Indonesia. Mereka sudah tahu pola penyakit Indonesia, merekapun pasti mempunyai kemampuan yang baik  berkomunikasi dalm bahasa Indonesia. Oleh karena itu di era AFTA nanti pilihan untuk masyarakat berobat hanya melihat apakah dokter berkompeten atau tidak menangani permasalahan kesehatan mereka. Sehingga jika dokter Indonesia tidak mengupdate pengetahuan mereka, dokter Indonesia dimasa AFTA nanti tidak akan menjadi tuan rumah buat masyarakatnya sendiri.

Akhirnya, dokter Indonesia memang harus siap akan tantangan yang akan dihadapi dimasa depan dengan selalu meningkatkan pengetahuannya agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik buat masyarakat Indonesia.


Wassalamu’alaikum Wr Wb,

Salam,
Dr.dr.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, FINASIM, FACP (@DokterAri)
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM
Ketua Panitia PIN PAPDI 2013- Wakil Ketua PB PAPDI 2012-2015



AKHIRNNYA DOKTER INDONESIA BISA TERSENYUM
Sen, 10 Feb, 2014
Info ini  saya terima beberpa waktu  yang lalu: "Alhamdullilah.  Hasil  PK  MA,  dr  Ayu  dkk  dibebaskan....

Lepas Sambut Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Maret 2013
Rab, 22 Mei, 2013
Di penghujung bulan Maret 2013, tepatnya pada 27 Maret 2013, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM melaksanakan Lepas Sambut Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam....

AKREDITASI Sp1 PROGRAM STUDI ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
Akreditasi ini bertujuan untuk menilai pelaksanaan proses pendidikan Spesialis penyakit dalam pada fakultas kedokteran Universitas Indonesia....

     
Copyright 2009