PROF. SUPARTONDO (PERINTIS GERIATRI NASIONAL dan TOKOH PENDIDIKAN KEDOKTERAN INDONESIA): Dokter harus berempati dan melayani para pasiennya.

PROF. SUPARTONDO (PERINTIS GERIATRI NASIONAL  dan TOKOH PENDIDIKAN KEDOKTERAN INDONESIA):

Dokter harus berempati dan melayani  para pasiennya.

Tiga hari yang lalu tepatnya tanggal 27 Desember 2011, masyarakat kedokteran Indonesia kehilangan tokoh pendidiknya: Prof Dr. Supartondo SpPD-KEMD, KGer dalam umur 81 tahun. Dikalangan pendidikan kedokteran Indonesia beliau dikenal sebagai guru yang tegas, mendidik agar dokter melihat pasien sebagai satu kesatuan yang utuh. Setiap dokter harus berempati terhadap pasiennya. Penanganan pasien harus tuntas, menatalakasana pasien dengan selalu melakukan pendekatan Biopsikososial. Seorang calon dokter dan calon spesialis penyakit dalam harus punya pengalaman dalam masa pendidikannya untuk mengunjungi rumah pasien untuk melihat kondisi serta status sosial pasien. Beliau tidak ingin program penanganan pasien tidak melihat sisi keseharian pasien. Beliau juga menentang berbagai model kolusi antara dokter dengan pihak ketiga yang merugikan pasien.  Konsep-konsep bagaiamana seorang dokter menangani pasien seharusnya selalu dimiliki oleh setiap dokter Indonesia saat ini. Apalagi dengan melihat kondisi saat ini banyak keluhan pasien maupun keluarga yang tidak puas terhadap pelayanan dokter. Harusnya jika para dokter selalu berada pada posisi melayani dan selalu mengembangkan budaya menolong  kepada pasien-pasien sebagaimana yang selalu Prof Supartondo ajarkan, permasalahan dan ketidakpuasan terhadap pelayanan dokter dan petugas dapat ditekan seminal mungkin.

Ari Fahrial Syam

Riwayat Hidup Almarhum Prof. Supartondo

PERINTIS GERIATRI NASIONAL  dan TOKOH PENDIDIKAN KEDOKTERAN INDONESIA

Oleh  Dr. dr. Czeresna Heriawan Soejono  SpPD-KGer, MEpid, FACP

Direktur Pelayanan Medik RSUPN Cipto Mangunkusumo

Almarhum  Prof Supartondo dilahirkan di Purwakarta pada tanggal 07 Mei 1930. Melewati masa kecil berpindah-pindah bersama keluarga. Bersama ayah beliau yang bertugas di Jawatan Lalu Lintas dan pengairan, Almarhum menempati rumah dinas yang terletak di sebuah bukit di mana dari bukit tersebut terlihat sungai kecil mengairi sawah yang harus diatur pembagiannya. Keadilan dan kearifan sudah ditanamkan dari kecil. Ketika Ayah beliau ditugaskan ke Tasikmalaya, Almarhum Prof. Supartondo terpaksa dipindahkan ke Yogyakarta dengan maksud agar dapat mendalami dan menekuni budaya leluhur. Sejak dipindahkan tersebut, Supartondo kecil sudah mulai belajar untuk mandiri, percaya diri dan bertanggungjawab meskipun jauh dari keluarga. Almarhum lulus dari AMS tahun 1950, kemudian melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Semasa mahasiswa banyak teman-teman kuliah mengenal beliau sebagai pribadi yang konsisten dalam bekerja, peduli dengan pasien dan bertanggungjawab. Kesan kental yang mewakili beliau diantara teman-temannya adalah “satu kata dan perbuatan”. Lulus tingkat pertama, almarhum diterima sebagai Asisten Prof. Kostermans, Guru Besar dalam bidang kimia untuk membantu para mahasiswa FKUI dalam praktikum kimia. Semasa mahasiswa, almarhum juga sangat aktif dalam kegiatan Senat Mahasiswa; beliau pernah menjadi wakil ketua Senat Mahasiswa FKUI. Selepas lulus sebagai Dokter tahun 1959, beliau melanjutkan pendidikan Spesialis Penyakit Dalam, dan lulus pada tahun 1964. Sejak tahun 1970, beliau menjadi Kepala Subbagian Metabolik Endokrin. Di bidang Endokrinologi, beliau dikenal sebagai klinikus, guru dan organisatoris di dalam dan luar negeri. Denyut awal organisasi diabetes dan endokrinologi di Indonesia, tak bisa lepas dari peran beliau.

Kepeduliannya terhadap pendidikan, sudah dimulai sejak jaman sebagai Asisten Mahasiswa hingga akhir masa hayat beliau. Banyak orang mengenal beliau sebagai pendidik yang berorientasi pada kepedulian untuk masyarakat kecil.

Beliau banyak membaca perkembangan masalah kesehatan, mengendapkan, merenungkan dan akhirnya membagi hasil pemikiran dalam bentuk kuliah dan tulisan.

Salah satu yang menjadi perhatian beliau dalam melayani pasien, adalah pelayanan yang berkesinambungan. Sejak di rumah sakit dan akhirnya rawat jalan, pasien harus mendapatkan pengelolaan yang lengkap. Ruang pelayanan tidak terbatas di rumah sakit dan poliklinik, kunjungan ke rumah pasien menjadi salah satu materi yang beliau terapkan dalam pengajaran mahasiswa. Beliau gemar melakukan penyuluhan awam, bukan gemuruh tepuk tangan yang diharapkan, akan tetapi pemahaman yang benar dari yang hadir sudah cukup.

Prof. Supartondo amat risau jika pasien mendapat pelayanan terkotak-kotak, pendekatan manusia menjadi organ-organ tubuh ini amat ditentang, apalagi jika hal tersebut terjadi pada pasien berusia lanjut. Pandangan beliau yang visioner menjangkau jauh ke depan menyimak perlunya pendekatan bio-psiko-sosio-spiritual pada pasien geriatri. Pandangan pendekatan yang paripurna tersebut menuntun pengembangan layanan terpadu geriatri di RS Cipto Mangunkusumo serta pendidikannya di FKUI. Pengembangan ini kemudian menjadi model layanan untuk pasien usia lanjut di Indonesia.  Lebih jauh beliau berpendapat bahwasanya pendekatan seperti ini seyogyanya diterapkan pada pasien semua usia. Atas prakarsa beliau, pada bulan Agustus 1996 lahirlah Divisi Geriatri Ilmu Penyakit Dalam hingga besar seperti sekarang. Pada tahun 1998 Menteri Kesehatan RI saat itu menganugerahkan penghargaan sebagai Perintis Geriatri Nasional.

Prof. Supartondo juga mengingatkan perlunya perhatian terhadap penerapan etik kedokteran. Dari waktu ke waktu beliau berusaha secara konsisten menjadi pemerhati etik kedokteran, dengan mengumpulkan berbagai macam pemberitaan di surat kabar, terutama yang berkaitan dengan etik dan empati terhadap pasien “orang kecil”.

Prof. Supartondo adalah salah satu arsitek kurikulum pendidikan kedokteran Indonesia. Beliau juga banyak menilik pendidikan kedokteran yang seharusnya mengedepankan pendekatan holistik dan pemusatan nilai kemanusiaan dalam penanganan masalah kesehatan.

Tidak berhenti sampai di situ, beliau pernah mengatakan bahwa pendidikan kedokteran harus bisa menghasilkan lulusan yang melayani. Selain itu, dokter harus membimbing masyarakat untuk meningkatkan kemandirian di bidang kesehatan.

Jika kita menyaksikan berbagai perubahan yang terjadi di RSCM baik secara fisik mau pun Insya Allah non fisik ke arah perbaikan, maka sebagian jika tidak dapat dikatakan seluruhnya, terutama amat dipengaruhi oleh sepak terjang almarhum Prof Supartondo.

Ketika beberapa tahun yang lalu Direktur Utama yang saat itu menjabat sebagai Direktur Medik di RSCM dipanggil oleh almarhum untuk menghadiri peringatan hari ulang tahun dr Cipto Mangunkusumo di Departemen Ilmu Penyakit Dalam, terungkaplah di situ kerakter dr Cipto Mangunkusumo yang juga menginspirasi almarhum dalam berkarya dan akhirnya menular kepada Direksi. Karakter tersebut adalah keberpihakan kepada masyarakat yang kurang berdaya serta jiwa ingin menolong. Ia berikan bahagian dari dirinya yang terbaik untuk mereka yang membutuhkan pertolongan.

Sifat ingin menolong ini sekarang menjadi nilai inti RSCM dalam transformasi budaya yang tengah berlangsung. Nilai utama “kepedulian” yang terbentuk karenanya merupakan kristalisasi dari sifat ingin menolong tersebut. InsyaAllah perubahan tersebut memang benar-benar dapat mewujudkan apa yang menjadi cita-cita bersama, yang bukan saja diperjuangkan oleh Prof Supartondo almarhum, namun merupakan bagian dari karakter beliau pula.

Pimpinan dan segenap warga RSCM menyampaikan belasungkawa yang mendalam. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik.

Selamat jalan Bapak pendidik kami,

Nilai-nilai yang engkau jaga selama ini, baik yang tertulis dalam tulisan maupun “tertulis” dalam perbuatan akan terus menemani perjalanan sejarah ilmu kedokteran di negeri ini.    

You may also like...